October 11th, 2008

Selain perjalanan Sejarah, kecantikan Alam dan keanekaragaman Budayanya menarik untuk ditelusuri, menjelajahinya juga dibutuhkan keberanian. Bersiaplah menghadapi serangan Malaria dan melalang buana dengan pesawat Fokker, Twin Otter sampai Hercules.  Tapi buat Anda yang memang penyuka tantangan, pilihan Anda sudah tepat karena Papua it’s a place for Adventurous!

Bagi seorang petualangan sejati menjelajahi alam Papua merupakan sebuah impian besar, bagaimana tidak? Selain biaya yang diperlukan ‘selangit’ jumlahnya bahkan hampir sama dengan harga sebuah around the world ticket untuk trip ke Negara-negara Amerika Latin, ketahanan mental dan fisik kita juga sangat diuji disini mengingat seluruh daratan Papua masih memiliki hutan-hutan yang terkenal masih ‘perawan’ kadang memaksa kita untuk kuat ‘trekking’ berjam-jam bahkan berhari-hari demi menjaga silaturahmi dengan saudara-saudara kita yang tinggal di pedalaman sana. Disamping itu, selain ketakutan akan terjangkit Malaria juga tak kalah hebatnya mengingat seluruh daratan Papua merupakan daerah endemik Malaria nomor satu di Indonesia, faktor daratannya yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung juga menyulitkan akses transportasi disana hingga semuanya harus ditempuh dari udara. Untuk yang satu ini juga dibutuhkan keberanian tinggi karena jenis pesawat yang digunakan adalah jenis Fokker dan Twin Otter bahkan Hercules ditambah lagi seringnya berita kecelakaan pesawat disini seringkali membuat hati kita semakin ‘kiut’ saja tapi taukah Anda bahwa Papua juga merupakan pulau kedua terbesar di Dunia?

Oleh sebab itu, rasanya ‘tak pantas’ menjadikan semua ulasan diatas menjadi ‘batu sandungan’ untuk menwujudkan impian menjelajahi Negeri Cendrawasih nan cantik penuh pesona ini.  Dan kamipun berhasil mewujudkan impian tersebut dengan menjelajahi hampir seluruh TOP Destinasi yang bisa dibilang telah mewakili PAPUA. Dan rute yang kami tempuh kali ini adalah : Jakarta-Sorong-Jayapura-Wamena-Lembah Baliem-Jayapura-Merauke-Border PNG-Jayapura-Border PNG-Jayapura-Jakarta.

Dari semua daerah yang kami kunjungi di wilayah Papua ,Papua Barat sampai ke ujung dua titik perbatasan antara Indonesia-Papua New Guinea tersebut. Dapat kita simpulkan bahwa Papua masih menjadi negeri dongeng dengan hutan rimba dan mayoritas penduduknya masih tak kenal modernitas dan kemiskinan selalu menemani keseharian mereka. Sungguh ironis bukan? Apalagi jika kita lihat begitu kayanya sumber daya alam baik yang ada diatas maupun yang dikandung di perut buminya.

Padahal jika mau dihitung mungkin hanya dengan kekayaan yang ada di Papua saja, sudah mampu membuat Indonesia ini lebih maju dari sekarang serta bisa menghilangkan statusnya sebagai Negara berkembang yang disandangnya puluhan tahun itu menjadi Negara Maju minimal se Asia Tenggara, tapi mengapa semua itu tidak bisa mewujudkan ‘impian’ tersebut bahkan lebih ironis lagi tidak mampu membuat masyarakat local setempat lebih sejahtera. Tapi itulah kenyataan yang selalu terjadi di Indonesia, jadi bukan hanya Papua yang bernasib demikian. Ah sudahlah, kita disini bukan untuk bertanya-tanya terus tapi untuk membahas potensi yang berjuta jumlahnya yang memenuhi bumi si mutiara hitam dari timur itu.   

Sekarang mari kita lirik catatan perjalanan sejarah Papua itu sendiri, seperti halnya daerah lainnya di Indonesia papua juga memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan berliku. Selain menjadi daerah kolonialisme, disini juga pernah terjadi perebutan kekuasaan hingga menjadi medan perang bagi pertempuran terbesar yang pernah terjadi pada Perang Dunia II antara Amerika dan Jepang. Dan catatan itu masih bisa kita temukan beberapa daerah di Jayapura, seperti di Pantai Hamadi yang merupakan saksi bisu pendaratan pertama tentara sekutu (Amerika) di bumi papua tepatnya pada tanggal 22 April 1944 yang dipimpin oleh Jenderal Mac Arthur, Anda masih bisa menemukan bangkai kapal amphibi yang tergeletak begitu saja disana.

Masih dibawah kepemimpinan Mac Arthur, pasukan sekutu akhirnya membangun basecamp di atas Bukit Pelway Mogho, sementara pasukan Jepang bermarkas di Biak. Di bukit Pelway Mogho inilah Sekutu mempersiapkan pasukannya dan mengatur strategi untuk mengalahkan Jepang. Sejarah mencatat bahwa pertempuran di Papua itu akhirnya menjadi tempat dimana Jepang harus mengaku kalah terhadap Amerika setelah melalui berbagai pertempuran hebat lainnya. dan untuk mengenang jasa-jasa Jenderal Mac Arthur Pemerintah Amerika membangun Tugu Mac Arthur. Mungkin sebagian kita bertanya-tanya, mengapa Amerika dan Jepang memilih Papua sebagai medan pertempuran??? Jawabannya tak lain karena posisi Papua dianggap sebagai daerah strategis dan merupakan pintu gerbang menuju Asia Pasifik,

Jika Anda ingin mempelajari sejarah, pastinya Anda tidak akan melewatkan Jayapura begitu saja. Kota yang pernah menyandang nama Hollandia, Kota Baru dan Sukarnopura, sebelum akhirnya menjadi Jayapura ini merupakan basis kekuatan tentara sekutu dan pusat kegiatan intilejen di Pasifik Selatan. Di tugu Mac Arthur tepatnya dari atas bukit Pelway Mogho, Anda bisa melihat dan menikmati pemandangan ke seluruh kota Sentani dan pegunungan Cyclops.

Selain penting mengetahui perjalanan sejarah, ternyata ada lagi yang tak kalah penting untuk kita ketahui yakni asal muasal nama Papua itu sendiri, sebab kita ketahui bahwa dahulu sewaktu Orde Lama berkuasa kita mengenalnya sebagai Irian Jaya. Bangsa Portugis, adalah bangsa pertama yang menemukan Papua dan menyebutnya sebagai Ilhas dos Papuas (Pulau Rambut Keriting). Kata ‘Papua’ sendiri berasal dari ragam bahasa Melayu, yakni papuwah. Sedangkan Belanda, yang datang berikutnya memberi nama Nieuw Guinea, karena menginggatkan orang-orang Belanda kepada penduduk sebuah daerah di Afrika yakni Guinea.

Kekuasaan Belanda kemudian ‘dipatenkan’ dengan penamaan Dutch Nieuw Guinea dibagian barat Pulau Niew Guinea. Sedangkan bagian timur, yang hingga kini bernama Papua New Guinea dikuasai oleh Australia. Hingga 1 mei 1963, sebelum Republik Indonesia berhasil merebut Papua dari tangan Belanda, pulau ini masih dikenal sebagai Dutch Nieuw Guinea. Setelah itu, barulah dipergunakan nama Irian Jaya, yang artinya “kemenangan negeri panas yang muncul dari dasar laut” Menarik bukan ceritanya? Nah sekarang mari kita beralih ke Point of View lainnya yang dimilikinya, pasti juga tak kalah menariknya. 

Masih di Jayapura, kelilingilah Danau Sentani dengan perahu motor atau speed boat sewaan yang biasa mereka sebut ‘perahu johnson’ (Johnson merupakan nama merk mesin perahu yang banyak digunakan disana). Danau ini merupakan terbesar kedua di papua, nikmatilah pemandangan alam disepanjang perjalanan Anda berkeliling danau, terkadang akan kita temukan Elang dan Banggau yang sesekali terbang rendah untuk menangkap ikan. Danau ini sangat besar hingga persiapkan waktu Anda dua sampai tiga jam untuk mengelilinginya! Selain itu kami menyarankan kepada Anda, tengoklah jendela pesawat Anda ketika pesawat mendekati bandara Sentani. Kami jamin Anda akan terkesima menikmati hijaunya Danau Sentani ditambah areal hutan  nan subur bak permadani.

Jayapura dengan bandaran Sentaninya merupakan bandara tersibuk kedua untuk wilayah Indonesia timur setelah Bandara Hasanuddin di Makassar, dari sini anda bisa melanjutkan perjalanan kebeberapa wilayah Papua lainnya. Lembah Baliem misalnya, terletak di Kabupaten Jayawijaya, disini akan Anda temui pemandangan bak lukisan, hutan nan hijau dihiasi langit biru dengan honai-honai berwarna coklat (rumah-rumah tradisional suku tradisional Papua) yang bertebaran dibawahnya menciptakan harmony yang serasi. Lembah ini dihuni oleh suku Dani, Yali dan Lani, mereka masih setia menjaga tradisi dengan memilih tinggal di honai daripada di rumah permanen, termasuk masih banyak diantara mereka yang masih menggunakan koteka untuk para pria dan bertelanjang dada untuk para wanitanya. Meski sekarang, banyak dari mereka telah menggunakan pakaian lengkap dan alat komunikasi, mungkin hal ini disebabkan oleh pengaruh dunia luar, terutama pendatang dan turis baik local maupun mancanegara.

Ternyata meski hidup di lembah yang jauh di ujung Indonesia, mereka seringkali berinteraksi dengan turis terutama manca negara karena memang frekuensi kunjungan mereka ke wilayah ini terbilang cukup tinggi. Dan terus meningkat setiap bulan Agustus, dimana digelar Festival Lembah Baliem.  Festival ini adalah hajatan terbesar dalam setiap tahunnya bagi masyarakat papua khususnya mereka yang berada di wamena. Di ajang ini, Anda bisa menyaksikan perang antar suku, mereka menari, bernyanyi dan berpantun, memanah, lomba babi sampai upacara bakar batu, dan yang paling penting adalah disini Anda bisa sepuasnya ‘motret’ dengan GRATIS. Berbeda dengan ditempat lainnya, seperti di Pasar Jibama atau pasar lainnya jika Anda mengarahkan kamera Anda kepada seseorang, jangan kaget orang tersebut akan langsung menghampiri dan menagih Anda sejumlah uang. Apalagi jika Anda bermaksud Berfoto Bersama dengan Penduduk Lokal atau bersama Mumi Berusia Ratusan Tahun bersiaplah untuk merogoh kantong lebih dalam, usahakan untuk bertanya dulu berapa biayanya sebab bisa jadi di akhir acara Anda akan diminta membayar ratusan ribu bahkan jutaan rupiah hanya untuk sebuah foto bersama mumi dengan pasukan komplitnya itu.

Terdapat beberapa desa yang menyimpan mumi dari nenek moyang mereka, tepatnya ada enam mumi yang bisa ditemukan di Wamena dan salah satunya adalah mumi di KURULU. Para mumi yang diawetkan tersebut, biasanya merupakan kepala suku, panglima perang atau seorang tokoh penting dari suku tersebut. Prosesnya, jenazah dibaluri ramuan alami kemudian diasap sehingga menjadi mumi, penduduk setempat masih menjaga mumi nenek moyang mereka dengan sepenuh hati. Biasanya, keturunan yang menjaga mumi tersebut akan menarik biaya apabila Anda ingin melihat atau berfoto bersama. Berhubung sangat sakral, Anda tidak diperbolehkan menyentuh mumi tersebut.

Babi dan Poligami adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupannya, semakin tinggi derajat seorang laki-laki maka semakin banyak pula istri yang dimilikinya sementara untuk menunjukkan kekeyaan seseorang yakni dengan jumlah babi yang dimilikinya.  The more pigs you have, the richer you are.

HONAI, merupakan rumah tradisional berbentuk lingkaran yang terbuat dari kayu dan beratap jerami. banyak terdapat di luar kota Wamena. Biasanya, satu keluarga Suku Dani bisa memiliki beberapa honai berkumpul jadi satu dan dibatasi oleh pagar kayu disekelilingnya. Honai-honai ini didiami oleh satu pria Suku Dani, beserta istri-istri dan anak-anak mereka, memilki pintu masuk yang rendah dan mereka tidur dibagian atasnya, terlihat sempit memang tapi cukup nyaman bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari dinginnya udara malam.

Indahnya alam disekitar pegunungan Jayawijaya, menggoda kita untuk melakukan Trekking, baik itu yang serius dengan mendaki gunung atau sekedar menyusuri Perkampungan Suku Dani.  Pasti menjadi pengalaman yang menyenangkan, jangan lupa mampir untuk Belanja benda-benda unik khas Papua di pasar tradisionalnya.

Itulah yang ada di Lembah Baliem, sangat tidak berlebihan kalau banyak orang yang jatuh cinta padanya. Karena Alamnya selain menyimpan berjuta pesona juga menantang adrenalin, ada beberapa cerita  menarik yang tidak mungkin kami lupakan yakni ketika kami berfoto dengan mumi di Kurulu, ketika hendak pulang kami diharuskan membayar setengah juta rupiah hanya untuk beberapa ‘klik’ saja, tidak ada pilihan lain kecuali membayar daripada tidak bisa pulang. Kemudian ketika kami sedang asyik berada di Desa Muliama, 20 Km dari kota Wamena, tempat dimana Festival Lembah Baliem berlangsung. Terpaksa Festival harus ‘bubar’ di hari kedua karena ternyata di Wamena telah terjadi penembakan yang dilakukan oleh aparat setempat terhadap anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang mencoba mengibarkan bendera ‘bintang kejora’ hingga memakan satu korban jiwa meninggal.

Tak bisa dihindari, ketegangan sempat terjadi disana hingga Pemerintah Daerah dan aparat setempat memberlakukan siaga satu untuk Wamena dan sekitarnya, dampaknya kamipun harus kembali ke kota setelah menunggu evakuasi kepolisian, tak hanya itu untuk beberapa malam kami tidak bisa tidur nyenyak karena mata harus tetap terjaga bila ada peringatan ‘mengungsi’ dari aparat setempat.

Yah akhirnya, ketakutan kami akan aksi balas dendam tidak terjadi, wajar saja seluruh warga Wamena dihantui rasa takut dan sangat trauma mengingat pada tahun 2000 yang lalu, disini pernah terjadi tragedi kemanusiaan yang dikenal dengan WAMENA BERDARAH.

Sebenarnya masih banyak potensi wisata yang ada di Papua, seperti Raja Ampat. Lokasinya berada di Papua Barat dan sedang gencar dipromosikan sebagai spot diving no 2 di Indonesia setelah Bunaken. Beberapa teman yang memang ‘hobi’ diving mengatakan keindahan dunia bawah lautnya melebihi Taman Nasional Bunaken di Menado, sayang kami tidak bisa membuktikannya sendiri mengingat cuaca kurang bersahabat untuk diving. Sementara diujung timur Republik ini yakni Merauke, terdapat beberapa tempat bersejarah salah satunya yakni tugu LB Moerdani, ditempat ini LB Moerdani melakukan pendaratan pada 04 Juni 1962 untuk pembebasan Irian Barat kepangkuan NKRI. Selanjutnya, Taman Nasional Wasur yang memiliki area hutan tropis yang sangat luas . Rasanya tak cukup waktu satu minggu untuk menyusurinya, sayangnya kondisinya sangatlah memprihatinkan, minimnya perawatan dan promosi membuat Taman Nasional ini hampir tidak dikenal oleh kita meski sebenarnya jika ditata dengan baik pasti nasibnya akan sejajar dengan Taman Nasional Ujung Kulon di ujung sebelah barat pulau Jawa itu. Jika di Ujung Kulon Anda bisa menemukan Badak Bercula Satu, disini Anda bisa menemukan Kangguru.

Binatang yang terkenal sebagai kebanggaan dan hanya ada di Australia ini ternyata juga ada disini lho meski postur tubuhnya tidak setinggi Kangguru Australia.  Selain Kangguru, di Wasur Anda dipastikan akan terkejut bahwa semut disini memiliki rumah yang megah. Sepintas dari jauh seperti batuan karst yang menyerupai pilar lancip yang menanjap ditanah, coba parkir dulu kendaraan Anda untuk mengamatinya sejenak maka akan Anda temukan keunikkan yang luar biasa. Entah bagaimana cara semut-semut itu membangunnya hingga demikian kokoh, rumah semut ini juga dipercaya bisa dijadikan obat penyembuhan berbagai macam penyakit. Hebat bukan! Terakhir, sebagai penutup petualangan yang manis. Sempatkanlah untuk berfoto di tugu ‘Nol Kilometer’ untuk wilayah timur Negeri ini. Letaknya benar-benar diujung Republik, dan berbatasan langsung dengan Negara Tetangga kita Yakni Papua New Guinea (PNG). Untuk berada di titik ‘nol’ ini sebelumnya kita harus menyusuri hutan Taman Nasional Wasur, disarankan untuk menyewa kendaraan di Merauke sebab angkutan umum sangat jarang ditemukan untuk rute ini, namun jangan takut kondisi jalannya terbilang bagus meski demikian kewaspadaan berkendara harus tetap dijaga menginggat medan yang berkelok-kelok dan licin dikala hujan turun.      

Nah itulah rangkaian liputan kami selama berada di Papua, sungguh pengalaman yang tidak terlupakan dan penuh tantangan sekaligus mendebarkan tentunya. Jadi tidak salah khan kalau kami menjuluki Papua sebagai The Right Place for ADVENTURER, BRAVO PAPUA! (Foto & Tesk by : Evi Aryati Arbay)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

     

 

 

 

 

 

 

 

June 14th, 2008

Sudah lama banget gue kepengen jalan keliling Flores, dan hal itu baru bisa gue wujudkan pada tahun 2008 ini. Tepatnya tanggal 16 Mei, berangkat dari Jakarta menuju Denpasar tidak ada hal yang istimewa dalam perjalanan itu hanya saja di dalam pesawat Merpati yang gue tumpangi terdapat banyak selebritis Indonesia meski yang gue kenal tampangnya cuma Slank & Garin Nugroho sementara yang lainnya sepertinya artis baru tenar yg gue gak kenal sama sekali.

 

Transit di Denpasar membuat kaki gue gatel tuk keliling Bali lagi tapi gak bisa gue lakukan karena jadwal gue yang bejibun dan ketatnya ijin cuti gue, akhirnya setelah setenggah jam di Ngurah Rai perjalanan gue lanjutkan menuju Bima sebenarnya ada pesawat langsung dari Denpasar ke Labuan Bajo tapi berhubung ada sedikit kerjaan kantor di Kantor Cabang di Bima sekaligus rute ini memang irit ongkos tentunya.

 

Sayang di Bima gue hanya punya waktu 1 hari, jadi tidak bisa keliling kota Sumbawa padahal pengen banget lihat Balapan Kuda khas daerah itu..yah nexttimelah!.

 

Jam 06:00 pagi di tanggal 17 Mei 2008 gue dah siap menuju Sape (pelabuhan penyebrangan), dari sini ke Labuan Bajo harus ditempuh dengan Ferry milik ASDP (ada juga yang dikelola Swasta) lamanya perjalanan 9 jam. Karena gue baru start dari Sape jam 9 pagi otomatis jam 7 malam gue nyampe Labuan Bajo.

Read the rest of this entry »

March 21st, 2008

Posted in My Photo | No Comments »
March 12th, 2008
Baduy: The Tribe Locked in Time ( Evi Aryati Arbay)  

 

 

 

Not many are left of these people who survive with old, unchanging, tradition in this fast-changing word, on top of that people who live not very far from the busy metropolis of Jakarta. The Baduy can be described as the “Amish of Indonesia”, many call them ‘isolation’.

They are Austro-Proto_Malay, living in South Banten, west Java, on 5,101 hectares of land 178 km. Away from Jakarta. Figures from the census last year show there are about 8,000 Baduy, of which 800 are inner Baduy. They are devided into two groups: Outer Baduy or Urang panamping or Black Baduy, and Inner Baduy or Urang Tangtu or White Baduy.

Read the rest of this entry »

March 10th, 2008

 

“ Kini orang kembali hidup, menyusun rumah dari puing, membalsami luka, menambal dan menyulam hidup dimana masih ada persahabatan dan harapan yang belum sepenuhnya hancur”

 

Awal Pesona Bumi Maluku

Kala sinar mentari pagi menembus jendela, seperti berusaha membangunkan mata yang terpejam untuk menikmati keindahan dan pesona Bumi Maluku dari ketinggian udara. Benar saja, mata ini dibuat terpana karenanya, untuk beberapa saat menikmati proses matahari terbit (sunrise) di atas cakrawala sementara bumi maluku didampingi teluk ambon berada dibawahnya. Benar-benar satu fenomena alam yang sempurna hingga hati tak lupa mengucap syukur kehadirat-Nya, namun terbesit pertanyaan atas apa yang pernah terjadi hingga membawa ingatan akan berita dan cerita yang pernah tertangkap telinga akan bumi maluku ini. Sejenak membathin, kenapa semuanya bisa terjadi disini???

Akhirnya si burung besi landing di Bandara Pattimura, dan diluar dugaan bandara ini ternyata lebih bagus dan rapi ketimbang bandara Adisucipto atau pun Juanda di Surabaya. Ini memang kali pertama Redaksi Infokarikan menginjakkan kaki di Bumi Maluku khususnya di Ambon, sehingga sebagai tamu yang hanya singgah sepekan. Kami tak akan pernah tahu persis jika ada trauma, dendam dan perpanjangan curiga yang masih menyelinap di sepanjang Teluk Ambon.   

Read the rest of this entry »

Posted in My Journey | Comments Off
  • Cuap-Cuap