“ Kini orang kembali hidup, menyusun rumah dari puing, membalsami luka, menambal dan menyulam hidup dimana masih ada persahabatan dan harapan yang belum sepenuhnya hancur”
Awal Pesona Bumi Maluku
Kala sinar mentari pagi menembus jendela, seperti berusaha membangunkan mata yang terpejam untuk menikmati keindahan dan pesona Bumi Maluku dari ketinggian udara. Benar saja, mata ini dibuat terpana karenanya, untuk beberapa saat menikmati proses matahari terbit (sunrise) di atas cakrawala sementara bumi maluku didampingi teluk ambon berada dibawahnya. Benar-benar satu fenomena alam yang sempurna hingga hati tak lupa mengucap syukur kehadirat-Nya, namun terbesit pertanyaan atas apa yang pernah terjadi hingga membawa ingatan akan berita dan cerita yang pernah tertangkap telinga akan bumi maluku ini. Sejenak membathin, kenapa semuanya bisa terjadi disini???
Akhirnya si burung besi landing di Bandara Pattimura, dan diluar dugaan bandara ini ternyata lebih bagus dan rapi ketimbang bandara Adisucipto atau pun Juanda di Surabaya. Ini memang kali pertama Redaksi Infokarikan menginjakkan kaki di Bumi Maluku khususnya di Ambon, sehingga sebagai tamu yang hanya singgah sepekan. Kami tak akan pernah tahu persis jika ada trauma, dendam dan perpanjangan curiga yang masih menyelinap di sepanjang Teluk Ambon.
Diperjalanan sepanjang teluk, diramaikan oleh cerita Azis yang menjemput di bandara tentang peristiwa berdarah itu. Begitu ekspressive dan bersemangatnya ia bercerita, seperti membaca rasa penasaran hati, dia tahu sebagaimana dunia tahu, di sini Tuhan pernah disebut di dua kubu dengan kenyakinan yang belumuran darah untuk sebab yang tak jelas. Azis terlahir di Ambon dan bekerja di SKI Kls II Pattimura selama 3 (tiga) tahun terakhir. Dia melihat dan mengalami langsung peristiwa berdarah itu, perang saudara yang telah menyeretnya menjadi bagian dari warga maluku yang terluka dan dirundung duka yang mendalam. Meski menurutnya lagi, kini Ambon mulai bangkit dari keterpurukkan yang membawanya ke titik nadir. Perlahan menyembuhkan luka dan merajut harapan akan hidup yang lebih baik dari hanya sekedar berperang. Namun masih meninggalkan kenangan kelabu di hati setiap orang yang mengalaminya di depan mata seperti layaknya Azis.
Nadi Kehidupan mulai berdenyut
Meski Ambon masih dihuni gedung-gedung hangus, namun kehidupan telah berjalan normal. Di kiri-kanan jalan: reruntuhan suram. Di kota Maluku ini orang masih bisa bicara dengan rinci tentang kebengisan panjang yang berawal pada tahun 1999 dan berakhir menjelang 2005 itu: rumah mereka yang hancur dibakar, gereja, masjib dan universitas yang dibumihanguskan, bom yang dirakit dan diledakkan, speedboat yang diserang, preman dan laskar dari luar ikut menyulut kebencian, militer dan polisi yang menghasut, pengungsi yang mungkin tak kembali, ratusan saudara dan teman mati dibantai. Konflik antara penduduk Muslim dan Kristen Maluku itu berakhir dengan sekitar 13 ribu orang tewas; bagaimana orang akan melupakannya?
Namun yang menakjubkan ialah bahwa pada bulan September 2006 itu kota dan penghuninya telah tampak kembali ramah dan dengan kehalusan yang khas, tak jarang riang-seperti laiknya orang Ambon. Kehidupan sedang pulih dan seakan-akan ada salam yang kemarin bungkam. Di lapangan depan kantor Gubenuran-Ambon sedang ramai, hari itu diadakan gladi resik acara HUT Kota Ambon ke 425 Th. Kota Ambon mulai bergeliat, jalan-jalan dipadati kendaraan pribadi dan angkutan kota, tak ketinggalan angkutan penyebrangan di teluk ambon pun sarat penumpang dan pasar ramai penuh warna.
Tragedi Kemanusiaan yang terjadi di Ambon, mengingatkan kita pada sajak W.H. Auden yang mengatakan: “ ….. no one exist alone; Hunger allows no choice to the citizen or the police; We must love one another or die ” (September 1939).
Sajak Auden itu, ditulis disebuah sudut di 42nd Street di New York, ketika dunia dihantui sebuah perang besar. Kini coba kita bayangkan sang penyair tak berada di New York melainkan di Ambon atau disebuah sudut Indonesia, ketika Republik terancam ambruk oleh perang-perang saudara lokal seperti yang terjadi di Maluku itu. Ia mungkin akan juga merasakan bahwa “harapan-harapan yang pintar habis”. Ia mungkin akan sadar tentang sebuah darsawasa yang culas dan nista, ketika “gelombang marah dan ketakutan berpusar”, ketika “bau kematian yang tak bisa diucapkan” mengusik malam yang tak lagi mewarkan perlindungan.
Tapi seperti halnya di Ambon, hidup bisa menebus dirinya sendiri; selalu ada sebuah alternatif yang bisa dibangun ketika “harapan-harapan yang pintar habis” karena harapan bukanlah satu hal yang mustahil. Benar saja awal 2005 lalu, harapan itu telah berubah menjadi kenyataan dimana perang dapat diakhiri dengan damai. Kini orang kembali hidup, menyusun rumah dari puing, membalsami luka, menambal dan menyulam hidup dimana masih ada perbuatan praktis dan persahabatan yang belum sepenuhnya hancur. (Evi Aryati Arbay)
*) Judul dikutip dari puisi terkenal Chairil Anwar berjudul “Cerita Buat Dien Tamaela”

