Sudah lama banget gue kepengen jalan keliling Flores, dan hal itu baru bisa gue wujudkan pada tahun 2008 ini. Tepatnya tanggal 16 Mei, berangkat dari Jakarta menuju Denpasar tidak ada hal yang istimewa dalam perjalanan itu hanya saja di dalam pesawat Merpati yang gue tumpangi terdapat banyak selebritis Indonesia meski yang gue kenal tampangnya cuma Slank & Garin Nugroho sementara yang lainnya sepertinya artis baru tenar yg gue gak kenal sama sekali.
Transit di Denpasar membuat kaki gue gatel tuk keliling Bali lagi tapi gak bisa gue lakukan karena jadwal gue yang bejibun dan ketatnya ijin cuti gue, akhirnya setelah setenggah jam di Ngurah Rai perjalanan gue lanjutkan menuju Bima sebenarnya ada pesawat langsung dari Denpasar ke Labuan Bajo tapi berhubung ada sedikit kerjaan kantor di Kantor Cabang di Bima sekaligus rute ini memang irit ongkos tentunya.
Sayang di Bima gue hanya punya waktu 1 hari, jadi tidak bisa keliling kota Sumbawa padahal pengen banget lihat Balapan Kuda khas daerah itu..yah nexttimelah!.
Jam 06:00 pagi di tanggal 17 Mei 2008 gue dah siap menuju Sape (pelabuhan penyebrangan), dari sini ke Labuan Bajo harus ditempuh dengan Ferry milik ASDP (ada juga yang dikelola Swasta) lamanya perjalanan 9 jam. Karena gue baru start dari Sape jam 9 pagi otomatis jam 7 malam gue nyampe Labuan Bajo.
Labuan Bajo sebenarnya kota yang kecil sekali tapi pamornya cukup terkenal lho di Dunia karena disini tempat transit para Tourist baik lokal maupun mancanegara baik yang menggunakan pesawat terbang maupun Kapal Pesiar dari Denpasar. Mudah sekali menemukan kapal pesiar beragam jenis disini, akses transportasi dari dan ke labuan bajo pun sangatlah mudah dan punya banyak pilihan.
Sesampainya di Labuan Bajo, langsung check in di Hotel Bajo Beach sekitar 500m dari Pelabuhan, keliling kota dan briefing sama pemilik kapal yang aku sewa untuk keliling Pulau Komodo. Setelah mendiskusikan rute perjalanan yang telah gue fax dari Jakarta dengan Bang Iwan (Sang Pemilik Kapal), istirahat tidur.
Hari itu minggu, jam 10 pagi kami mulai perjalanan pesiar ke kompeks Taman Nasional Komodo. Lepas Labuan Bajo, sasaran pertama kami yakni ke Pulau Bidadari sekitar 30 menit dari Bajo. Pulau bidadari punya pantai yang bersih dan spot snorkling & Diving yang bagus sampai2 kami pun lupa waktu menikmati keindahan bawah lautnya. Menjelang tengah hari, perjalanan kami lanjutkan ke Pulau Komodo sekitar 1,5 jam dari Pulau Bidadari. Di Pulau Komodo kami harus registrasi dan beli tiket masuk, harga tiket masuk 75.000rb untuk lokal turis seperti saja dan harga tersebut berlaku tuk mengunjungi pulau lainnya di Kompleks Taman Nasional ini.
Kami bertemu dengan pasangan Belanda yang senang berbulan madu, kami menyewa 2 orang ranger untuk berkeliling Pulau Komodo dan 200 meter dari kantor PHKA kami bertemu komodo yang pertama di pinggir pantai, wah dia besar sekali sampai2 kami takut tuk mendekat. Sepanjang jalan menyusuri hutan pulau komodo,beberapa kali kami bertemu dengan komodo yang liar, kawanan rusa dan babi hutan. Trip kami di pulau ini berdurasi 2 jam, sayang kami tidak bisa mendaki Gunung Ara karena hari telah menjelang sore dan tidak banyak komodo yang bisa kami temui di pulau ini.
Trip hari itu kami akhiri menjelang hari gelap dan rupanya kami adalah rombongan turis yang ada di pulau itu, lepas dari Pulau Komodo kami menuju ke Pulau Kalong untuk bermalam di atas perahu (Liveboard). Ribuan kalong ramai menyambut kedatangan kami dan perahu Bule Belanda yang menyusul kami dibelakang. Kalong itu keluar dari sarangnya dan kembali ketika kami asyik menikmati sunrise pertama kami di perairan Lesser Sunda Island ini, sungguh moment yang indah dan perfect.
Usai menikmati sunrise, kami langsung menuju Pantai Merah untuk mandi dan berenang sepuasnya. Sesuai namanya ternyata memang pantai ini memiliki pasir yang merah yang berasal dari kulit kerang dan koral yang hancur dan berwarna merah. Tak kalah dengan garis pantai dan pasirnya yang indah, pemandangan bawah lautnya pun tak kalah mempesona mata kita. Disini kami sempat mengelar lomba lari dipinggir pantai bersama dengan para kru kapal dan teman belanda kami, ah ternyata lari saya bisa mengalahkan Catherine (Bule Belanda). Setelah cape lari kami berenang lagi dan kali ini jauh sekali hingga hampir terbawa arus, berbagai jenis ikan kami jumpai disini dan pemandangannya lebih bagus dibanding di Pulau Bidadari, kembali ke kapal dengan perasaan kurang puas karena pemandangan bawah airnya memang bagus banget hingga betah berlama-lama bersnorkel sayang hari menjelang siang dan mulai muncuk arus yang kuat.
Perjalanan selanjutnya ke Pulau Rinca, sekitar 2 jam dari pantai merah. Baru sampai di dermaga Loh Buaya-Pulau Rinca, kedatangan kami langsung disambut oleh Komodo yang kata kapten kapal tetangga memang selalu ada disana. Lepas dermaga, kita diharuskan berjalan menuju Pos Jaga Loh Buaya untuk melapor dan memakai jasa Ranger. Perjalanan kesana melewati havana dan padang yang tandus dan gersang tapi kanan kirinya masih banyak ditumbuhi mangrove. Sekitar 15 menite kita akan sampai di Pos Loh Buaya, setelah registrasi dan menyewa Ranger kami diajak perkeliling Pulau Rinca selama 2 jam. Dan selama 2 jam itu kami disuguhi pemandangan hutan dan alam yang indah dan menakjubkan meski terik matahari kala itu sangat menyengat kulit seolah terbayar dengan sejuta pesona yang ditimbulkannya. Kami hanya bertiga dengan ditemani satu orang ranger dan kala itu tidak ada rombongan lain yang berjalan bareng kami, hal ini menyebabkan kami tidak ada yang mau jalan di belakang. ” Terus terang seumur-umur masuk hutan, baru kali inilah saya merasa takut, bagaimana tidak disini Manusialah yang di Karantina bukan Binatang dan setiap saat disepanjang jalan kita bisa ber pas-pasan dengan komodo yang liar dan ganas ” .
Trip selama 2 jam itu membuat hati ini was-was meski kami sangat menikmatinya dan cukup terhibur dengan pemandangan yang luar biasa cantiknya, tak terasa kami pun telah kembali lagi ke Pos start awal. Di pulau ini Komodo lebih banyak kami temukan dibanding di Pulau Komodo sendiri selain itu pemandangan di Pulau Rinca lebih beragam.
Sayang akhirnya menjelang pukul 13:00, Jamal awak kapal kami menjemput kami di kafetaria dekat pos jaga dan kami pun harus kembali ke Kapal untuk makan siang dan mengakhiri trip kami. Makan siang kali itu terasa sangat istimewa dan membuat kami sangat lapar, entah kerena menu yang mengundang selera atau karena memang kami lapar kerana kelelahan berjalan. Akhirnya setelah pulau rinca, kami harus kembali ke Labuan bajo dan mengakhir trip ini. Sebenarnya masih banyak spot / pulau2 yang menarik dan wajib dikunjungi ketika kita berada di taman nasional ini namun karena keterbatasan waktu hingga kami pun harus rela mengakhirinya. Dilain waktu pasti kami akan mengulangnya kembali dan menambah daftar kunjungan ke Pulau Kanawa dan Seraya. Yah, tepat azan Ashar kami telah tiba kembali di dermaga Labuan Bajo. (Sewa perahu dr Labuan Bajo - Komodo: 1,5 juta/hari untuk 3 orang (lokal) 2,5 juta/hari untuk 3 orang (bule) ). Sesampainya di hotel, kami tertidur hingga azan isha membangunkan.
Keesokkan harinya, usai sarapan pagi gue mengantar Dhita dan Ria ke pelabuhan. Mereka harus kembali ke Bima, setelah itu gue melanjutkan perjalana seorang diri sampai Maumere. Perjalanan masih panjang, dan sekarang harus gue tembuh melalui darat. Dan sekarang gue harus lanjut menuju RUTENG, jam 10 tepat travel yang gue pesan datang, didalamnya dah ada 2 orang bule inggris yang akhirnya gue kenal bernama Thomas Crick dan Piere. Sesampai di Ruteng, kami menginap di hotel yang sama yakni di Rima hotel. Gue sepat kenalan dengan Aldi (warung fotocopy disebelah hotel), setelah tokonya tutup dia ngajak gue jalan-jalan keliling kota ruteng dengan motornya. Aldi ternyata pernah jadi finalist Indonesia Idol, dia mendaftarnya dari Malang-Jatim namun sayang ia tidak bisa lolos ke tahap berikutnya yakni ke Jakarta meski sebenarnya dia punya suara yang bagus banget.
Malamnya, setelah keliling kota ruteng dengan Aldi gue kembali ke hotel. Di hotel gue berdiskusi dengan Thomas, banyak yang kami bicarakan termasuk curhat. Thomas menikah dengan orang jogja dan telah memiliki putri berumur 2 th, dia bercerita bagaimana proses dan sulitnya mewujudkan cintanya sampai ke jenjang perkawinan. Keterbukaan Thomas mendorong gue tuk bercerita tentang hubungan gue dengan laki2 warga negara asing juga yang sekarang sedang dekat dengan gue saat ini, perjuangan thomas membuat gue berpikir kembali tentang nasib hubungan gue kedepannya. Base on Thomas Experiences, ternyata kawin campur itu sulit dan butuh perjuangan yang panjang apalagi bila pasangan kita berbeda keyakinan pula. O ya, Thomas bekerja untuk UNDP di Jakarta khususnya untuk Proyek pemberdayaan & Bantuan Hukum bagi Kaum Miskin dan Termajinalkan. (Legal Empowerment & Assistance for the Disadvantanged (LEAD) Project Goverment Unit, UNDP).
Sarapan pagi itu terasa nikmat disertai diskusi hangat dengan beberapa teman seperjalanan yang semuanya bule, sedikit discus dengan Pierre (dia mirip sekali dengan Basisnya Mr Big, Billy Sheehan) ternyata doi itu crew survey film2 besar Inggris seperti James Bond dan terakhir film Davinci Code, Piere adalah teman baiknya Thom dan meraka melakukan trip keliling flores berdua. Thom bilang mereka sedang mencari pantai/pulau yang tepat tuk ber skinny diving, sayang yah aku gak bisa gabung dengan mereka karna jadwalku yang sempit.
Usai sarapan kamipun terpisah meski jurusan kami semua sama yakni ke Bejawa, Thom & Piere terlebih dahulu berangkat meninggalkan Ruteng dengan menyewa mobil sementara gue dan pasangan Belanda (Majoline & Bart) masih menunggu mobil yang kami sewa. Jam 10 baru kami bisa meninggalkan Rima hotel dan diperjalanan menuju Bejawa kami sempat beberapa kali berhenti untuk mengambil foto dan membeli tuak lokal yang keras sekali rasanya, saat kami berhenti membeli tuak inilah kami bertemu dengan Fernanto pria kelahiran Flores yang telah lama menetap di Belgia. Fernando pulang ke Flores untuk membangun Bungalow di tepi pantai, kamipun diundangnya kesana. Lokasinya bagus, private dan berada pesis di pinggir pantai, terlihat 5 bungalow yang masih dalam tahap pembangunan mulai di bangun.
Fernando memiliki hospitality yang sangat baik dan sangat bersahaja hingga ia habis-habisan menjamu kami, usai makan siang dengan menu ikan bakar yang lezat buatannya kami pun pamit untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan ke Bejawa dari Ruteng seharusnya bisa kami tempuh hanya dalam waktu 4 jam namun harus kami tempuh selama 8 jam dikarenakan banyaknya waktu berhenti. Pukul 18 waktu setempat kami sampai di Bejawa, gue tidak menginap disini dan memutuskan untuk langsung menuju Ende. Sebelumnya gue drop Marjoline & Bart di Hotel Eldeiwies-Bejawa, mereka mau ke Desa adat Bena dan keliling Bejawa. Sementara gue baru sampe Ende jam 21:00, cape banget hingga setelah check in gue langsung tidur, gak sadarkan diri sampe jam 08:00.
Hari itu malas sekalin untuk bangun padahal waktu dah jam 8 pagi, akhirnya gue paksa mandi biar seger dan cari sarapan diluar hotel sambil berkeliling kota dengan ojek, ke pasar Ende dan balik ke hotel jam 10 pagi. Sesampainya di restoran hotel gue bertemu dengan 2 orang bule yang juga membawa kamera SLR Digital, terlihat mereka seperti photographer profesional akhirnya kami berkenalan dan berdiskusi. Mereka bule inggris yang ramah, namanya Mark Eveleigh dan Craig Puser. Setelah ngobrol lama mereka mengajak gue untuk hunting ke Pasar tradisional dengan mobil pick up yang mereka sewa keliling flores, jadinya gue balik lagi ke pasar Ende lagi tapi kali ini dengan 2 teman baru dan kehadiran kami dipasar itu sempat membuat gempar seluruh pasar. Mark dan Craig banyak membuat sensasi termasuk memotret para pedagang yang ada di pasar itu. Lelah potret sana-sini, kami mampir ke warung kopi dan saling memperlihatkan hasil hunting bareng tadi….wah malu banget deh gue saat itu karena foto2 yg mereka ambil keren2 banget. Sesampai di hotel Safari, mereka mentraktir gue makan siang dan setelah itu gue pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Moni. Siang itu sangat berkesan dan terasa berat berpisah dengan mereka tapi kami sempat bertukar email dan mark ngasih kartu namanya. (sampai Jakarta baru gue tahu kalau gue baru aja hunting bareng dengan photografer profesional inggris yang sering motret untuk National Geografic, Discovery Channel, dll. Ternyata Mark juga menulis beberapa buku dan salah satunya tentang Dayak Kalimantan).
Setelah berpisah dengan Mark & Craig, gue menuju terminal untuk melanjutkan perjalanan ke Moni (start point menuju Danau Kelimutu). Gue sempet kesal juga menunggu mobil yang lama banget , mereka menunggu penumpang penuh, beruntung dekat bis itu terdapat pasar dadakan di pinggir jalan hingga gue bisa motret sampai akhirnya punya banyak teman penduduk lokal disana. Setelah datang 3 orang cowo bule, akhirnya, mobil itu penuh dan kami pun bisa berangkat menuju moni. Setiba di Moni, gue menginap di hotel Arwanti dan ternyata kamar gue bersebelahan dengan 3 bule tadi. Mereka ternyata dari kedutaan Prancis di Jakarta, 1 orang diantaranya sangat lancar berbahasa Indonesia dan kami sempat berdiskusi dan berencana untuk naik Kelimutu bareng dengan menyewa mobil. Tapi sayang mereka membatalkannya dan lebih memilih berjalan kaki sampai ke puncak kelimutu, gila mereka start dari hotel jam 2 pagi menuju danau sementara gue baru start jam 5 pagi dengan mobil sewaan. Gue hanya sendiri naik kelimutu dengan ditemani Ahmad (supir yang merangkap guide), diperjalanan sebelum gate kelimutu kami bertemu dengan cowo2 prancis itu. Dari hotel Arwanti-moni menuju parkiran kelimutu ditempuh 25 menit dengan berkendara, udara pagi hari sangat dingin disini dan perjalanan mendaki sampai puncak danau ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Gue tiba dipuncak kelimutu (tepatnya didepan danau yg berwarna hijau) sebelum sunrise datangm, disana sudah ada beberapa pasangan bule dari berbagai negara. Kami semua takjub ketika sunrise mulai datang menghampiri, sungguh Allah maha agung dan maha karya DIA menciptakan semuanya dengan sangat sempurna dan indah.
Gue masih betah tinggal dipuncak kelimutu ketika semua orang satu persatu pergi, puas berfot, bersama Ahmad gue pindah ke pucak Danau Hitam dan disana telah ada 3 cowo prancis tadi yang ternyata ketinggalan sunrise. Berkali-kali gue motret di puncak itu sampai harus ditegur ahmad untuk segera turun, kami turun ke parkiran dengan diiringi oleh kicau burung yang merdu. Sekitar 15 menit melewati gate kelimutu, kami berhenti di pematang sawah untuk berendam di Air panas yang ditenggah-tenggah sawah, kami mandi dan berendam sepuasnya disana, layaknya ber Spa gratis namun mengasyikkan tidak seperti di Jakarta yang harus bayar ratusan ribu untuk kenikmatan seperti ini. Kembali ke hotel untuk sarapan pagi, langsung menuju ke kampung tenun tradisional yang ada di dekat moni untuk membeli kain tenun ikat. Saya sempat membeli beberapa kain disini dan menurut saya harga kain disini malah lebih mahal dibandingkan di pasar Ende, kembali ke hotel untuk packing dan melanjutkan perjalanan ke Maumere dengan mobil Travel.
Perjalanan Moni ke Maumere memakan waktu 4 jam dan kali ini saya sempat dibuat pusing dengan lagu2 house music yang diputar berulang-ulang kali oleh sang supir, mana jalanan yang ditempuh sama seperti perjalanan dari Bajo-Ruteng-Bejawa-Ende, semuanya berkelok-kelok dengan kanan kiri jurang dan hutan. Sampai di Maumere, karena lelah dan kepala pusing akibat hentakan music yang telalu keras, gue membatalkan untuk menginap di kantor cabang dan memutuskan menginap di hotel Gardena. Sesampainya di kamar, saya tidak langsung istirahat malah menghubungi Atim (rekan kerja saya di kantor cabang) untuk mengantar saya keliling kota maumere dan ke Desa Tenun Sikka. Ternyata Atim sendiri belum pernah ke Sikka dan sempat terheran-heran dengan tenaga saya yang tidak ada abisnya, “gila baru 10 menit tiba, langsung minta jalan lagi” . Desa Tradisional Sikka terkenal dengan kain tenun ikatnya, sekitar 20 Km dari pusat kota Maumere. Diperjalanan menuju Sikka terdapat pantai yang canatik dengan sunset yang ciamik pulu, sayang setibanya disana gue gak bisa melihat para ibu yang sedang bertenun karena hari sudah sangat sore. Gue hanya sempat berfoto bersama bocah-bocah yang sedang melakukan koor di Gereja Tua & bersejarah peninggalan portugis yang terkenal itu dan kembali ke kota Maumere.
Tepat tanggal 25 Mei, perjalanan keliling Flores gue akhiri dengan menumpang pesawat Fokker 27 milik Riau Air menuju kupang, ganti pesawat mandala menuju Surabaya dan Jakarta. Dari perjalanan ini memang banyak tempat yang belum dikunjungi seperti PUlau Kanawa, Seraya di Komplek TN Komodo; Desa Bena & keliling Bejawa/Ngada; Larantuka dan pulau Sumba. Tapi pasti untuk yang berikutnya gue pasti kesana, gak nyangka bumi Flores begitu indah dan mempesona hingga gue ingin secepatnya bisa kesana lagi. Sayang tidak ada wisatawan lokal yang gue temui sepanjang perjalanan itu, malah banyak sekali orang asing yang memenuhi hotel-hotel dan berkeliaran disepanjang jalan itu dan menjadi teman seperjalanan gue yang menyenangkan.
Semoga akan makin banyak orang Indonesia yang bisa menikmati keindahan Tanah Air-nya sendiri, so guys Knows lot of your Country with Travel!!!
My Ride : Jakarta-Denpasar-Bima-Sape-Labuan Bajo-Around Taman Nasional Komodo Kompleks-Labuan Bajo-Ruteng-Bejawa-Ende-Moni-Maumere-Kupang-Surabaya-Jakarta. Dan semuanya ditempuh dalam 10 hari dengan menggunakan semua jenis tranportasi(Darat-Laut-Udara), biaya yang dikeluarkan Rp. 8,5 juta. (Evi Aryati Arbay)

